![]() |
facebook.com/the.Hati.Kampung |
Gambaran realitas dan sering terjadi
Cerita ini menggambarkan
realitas yang sayangnya masih sering terjadi di dunia pendidikan. Tokoh Dara
dan Pak Budiman memperlihatkan kekuatan hubungan antara ayah dan anak dalam
menghadapi situasi yang sulit. Cerita ini dialami Dara, siswi madrasah
ibtidaiyah…..
Perasaan malu dan terintimidasi
Laju motor pak Budiman terasa sangat
lambat. Mungkin karena motor pak Budiman sudah terlalu tua. Tapi beliau masih
bersyukur karena motor tua ini selalu menemani setiap pulang dan pergi ke tempat kerja dan
mengantarkan si buah hati ke sekolah. Dari kaca spion pak Budiman memperhatikan
Dara anak semata wayang nya. Wajahnya tampak sayu dan murung, padahal Dara anak
yang periang dan selalu rame jika naik motor bersama ayahnya. Sepertinya hari
ini Dara tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah. Tubuhnya yang di selimuti
dengan jaket kesayangan bersandar di punggung ayahnya.
"Dara,
kenapa, Nak?... Ada masalah?" Tanya ayahnya.
Dara
tersenyum, sejenak ia berpikir. Lalu...
"Ayah,
aku sekarang sudah kelas 6 dan nanti ada pembagian nomer ujian UAMNU (Ujian
Akhir Ma'arif NU), TKA (Tes Kemampuan Akademik) dan UM (Ujian Madrasah), apakah
ayah sudah membayar SPP dan BKS?" Tanyaku pelan.
"Kalau
SPP, Alhamdulillah ayah sudah bayar setiap bulannya dari gaji ekstra, tapi kalau
BKS belum Nak," jawab ayah.
Aku
terdiam tubuhku rasanya lemas, "Kenapa kejadian itu harus terulang lagi
dan lagi," bisikku dalam hati.
Dari kaca spion ayah melihat ku termenung,.....
"Dara,"
panggil ayah.
"Aku
takut gak dapat nomer ujian, yah," jawabku dengan nada bergetar.
"Gak
apa apa, sudah jangan terlalu dipikirkan," kata ayah.
"Tapi
Yah, kenapa setiap pembagian nomer ujian, aku selalu tidak dapat?... Aku ingin
seperti teman-temanku yang lain. Aku malu yah," kataku terbata-bata.
"Sabar
ya, Nak. Ayah jamin kamu pasti dapat nomer ujian itu. Kenapa?... Karena ayah
kerja di sana. Nanti ayah akan mengangsurnya dengan di potong langsung dari
gaji ayah," jelas ayah.
Aku
hanya tersenyum sambil memeluk ayahku erat-erat.
Sesampainya di gerbang sekolah, Dara
terdiam mematung. Dara enggan untuk melangkahkan kakinya di halaman sekolah.
Kakinya terasa berat untuk melangkah bagaikan beban berat ada di kakinya.
Setelah memarkirkan motor, ayahnya menghampiri Dara dan menggandeng tangannya. Dara
merasakan ada tambahan energi dari ayahnya.
"Gak
apa-apa, semangat," kata ayah tersenyum.
Dara
pun tersenyum meski masih ada rasa kekhawatiran di hatinya.
Seperti biasa aktifitas sekolah berjalan
seperti biasanya. Jam terakhir pelajaran wali kelas mulai membagikan nomer
ujian UAMNU, TKA dan UM. Hampir semua anak mendapatkan nomer ujian itu dan
tinggal lima anak saja yang belum mendapatkan karena masih ada tanggungan
termasuk aku. Dan seperti biasa, aku dan
temanku di panggil ke depan meja bu guru. Beliau menerangkan kalau orang tua
kami masih ada tunggakan. Rata-rata temanku belum bayar SPP. Sedangkan aku
tunggakan BKS sendiri. Aku hanya menundukkan kepala sambil berkata, "Iya,
Bu." Kemudian kami kembali duduk di bangku masing-masing. Bu guru berdiri
lalu...
"Makanya
bagi yang masih mempunyai tunggakan, sebisa mungkin orang tuanya melunasinya
sebelum lulus dari sekolah," kata bu guru sambil menatapku tajam.
Aku
merasa itu aku. Aku hanya bisa menunduk dan merasa semua mata memandang hanya
tertuju padaku. Aku tidak memiliki keberanian untuk menatap teman-teman ku. Aku
merasa terintimidasi. Aku merasa dipermalukan. Rasanya pingin nangis saat itu
juga tapi aku berusaha menahannya sebisa mungkin.
"Jangan
nangis, Dara," kata hatiku mengingatkan.
Aku
hanya bisa menghela nafas panjang, "Huuuhhh."
Sewaktu pulang, aku ke ruang kerja tempat
ayahku bekerja saat ini. Aku berjalan gontai dan mataku berkaca-kaca. Dari
kejauhan ayah menatapku.
"Kenapa?
Ada apa?" tanya ayah khawatir.
Lalu aku
menceritakan semuanya ke ayah.
Kata
ayah, "Ayah bekerja di sini, meskipun kamu sudah lulus sekolah masih ada
ayah jaminannya dan ayah tidak akan lari dari tanggung jawab ini.”
"Sudah
jangan sedih lagi, sekarang senyum. Besok ayah selesaikan," kata ayah
sambil memelukku.
"Terima
kasih, ayah," kataku sedikit lega.
Secara
keseluruhan, cerita ini ditulis dengan gaya yang sederhana namun berhasil
menyampaikan emosi yang kuat tentang perjuangan sebuah keluarga kecil dan
pentingnya rasa empati di lingkungan sekolah.
Secara
keseluruhan, kisah Dara dan Pak Budiman adalah pengingat yang kuat tentang
pentingnya menjaga harga diri siswa di lingkungan sekolah, serta keindahan
cinta tanpa syarat dari seorang ayah di tengah keterbatasan ekonomi. Semoga
kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua.
Salam
literasi



